Hari belum lagi terlalu sore. Matahari seusai hujan selalu nampak seperti baru dikirim dari surga. Aku duduk berpangku tas berat berisi perlengkapan kerja di deretan bangku paling belakang bis besar ini.
Bali memang sedang menggeliat. Tangan kanannya mengurusi aneka pembangunan gedung hotel dan berbagai sarana pelengkap. Sang tangan kiri mulai menata transportasi publik yang selalu menjadi dilemma pemerintah setempat, sejak tahunan lalu. Geliatnya menciptakan pro dan kontra yang mengawang-awang di udara. Sebagaian mendukung dan bertepuk tangan atas kemudahan hidup yang kelak akan dimiliki. Sementara sisi yang lain bermuram karena gerakan pembangunan ini menciptakan aneka masalah baru. Polusi, kemacetan, dan tentunya perubahan iklim yang kini semakin hangat.
Aku menyaksikan semua geliatnya di sini. Di dalam salah satu sarana transportasi sensasional yang baru diluncurkan Pemda Bali. Trans Sarbagita.
Dingin hembusan pengatur suhu tak sanggup meliputi kisruh hati kala bersitatap langsung dengan berbagai realita kehidupan yang sering tak tersentuh empati.
Di hadapanku, di deretan bangku vertikal yang berhadapan, ada sekelompok keluarga yang terdiri dari 2 ibu dan 5 anak-anak kecil usia 5-10 tahun. Apa yang kulihat adalah perwakilan dari angka kebanyakan tingkat kemiskinan di negara ini.
Pakaian mereka lusuh dan kotor. Hampir semua tidak lagi terbungkus dengan baik oleh aneka sandang yang kumal itu. Karet celana si 5 tahun sudah raib entah kemana, pantat kecilnya setiap kali terpampang karena celana yang kerap melorot. Rok renda si 7 tahun sudah koyak di beberapa bagian. Kaos si 6 tahun sudah bolong-bolong dan pudar warnanya. Tak kalah mengenaskan, pakaian 2 ibu juga sama buruknya.
Mereka mengejekku. Ya, mengejekku dengan beraninya. Mereka menyarankanku untuk tak memperdulikan sekitarku yang terkadang terlalu usil memberi komentar atas apapun yang aku kenakan atau aku kerjakan. Nasihat si 5 tahun: ‘Berposelah di dalam bis tanpa ragu dan tebar senyum yang paling genit agar dunia tahu bahwa hidup tidak akan terbelah jika kita bergembira dengan cara sendiri.’
Aku terdiam. Helaan nafas terasa aneh, entah berat, entah ringan. Entah ada, entah tiada. Aku hanya merasa malu atas kerumitan hidup yang terkadang kuciptakan sendiri.
Bis berhenti dengan rem yang menyentak pelan di lampu merah daerah Jimbaran. Perhatianku berhenti pada sesosok gemuk yang berdiri tepat di bawah tiang lampu merah. Ia mengenakan pakaian training yang sudah kotor, bertelanjang kaki dan membawa sebuah buku yang sangat tebal. Mungkin novel atau kamus, entahlah. Perutnya gendut, pipinya tembam dan tangannya gembul. Ia berdiri di sana berhadapan dengan si tiang bermata tiga sambil terus mendongakan kepalanya. Sesekali tangannya melambai-lambai kearah deretan kendaraan sambil tertawa-tawa. Begitu bis ini melaju, pria berwajah lucu itu masih di sana terus menatap lampu pengatur lalu lintas dengan ekspresi yang begitu gembiranya.
Aku mendenguskan nafas sekali lagi. Dadaku sesak menahan emosi yang tiba-tiba ingin meluap. Pria itu dapat dipastikan telah kehilangan kewarasannya. Aku yakin ia telah berdiri di hadapan tiang itu sejak berjam-jam sebelumnya. Ia menjadi tontonan warga yang melintas, bualan bagi yang merasa waras. Cemoohan bagi mereka yang cukup berbangga karena belum gila. Atau mungkin hanya diacuhkan, karena tidak ada sesuatu apa yang bisa dipetik dari pemandangan singkat pria bundar yang tertawa-tawa di tepi jalan.
Bagiku, ia telah menggamit tangan dan mengajakku berkeliling kota sambil menebar tawa tanpa peduli. Seharusnya kau lihat bagaimana wajahnya kala tertawa. Begitu lepas dan sangat polos. Tidak ada beban dan penuh dengan keriaan yang murni. Ia menggandengku seraya terus tertawa atas orang-orang yang mencibirnya, mengoloknya dan menghinanya. ‘Peduli setan!’ katanya. Ia hanya perlu tertawa dan mampu menjadi pemenang atas muramnya dunia akhir-akhir ini. Mata dengan cahaya berlian itu mencuri hatiku.
Bis kembali melaju dengan kecepatan sedang, dan jiwaku terduduk diam di sebuah sudut. Termangu dan mendadak bisu.
Kembali ke dalam bis. Si 7 dan 6 tahun duduk di lantai dengan nikmatnya, mereka bermain adu karet gelang yang entah bagaimana peraturannya. Asik sekali, tak peduli tatapan penumpang lain yang heran dan mungkin jijik karena lantai bis tidaklah bersih sama sekali. Dua anak tersebut kadang tertawa dan tos, lalu berganti mimik muka serius ketika pertarungan adu karet sedang terjadi. Kemudian meledak lagi suara tawa bocah yang belum dibebani aneka masalah hidup.
Si 8 tahun dan si 5 tahun asik bermain oper-oper gelinding bola air di lantai bis juga. Mereka bermarkas di dekat kaki para ibu yang sedang asik bercakap. Sementara itu, si 10 tahun dengan tenang dan penuh sahaja duduk di deretan bangku sama denganku. Ia di pojok sana bersidekap tangan dan dengan tenangnya mengamati jalanan. Aku mencoba membaca pikirannya.
“Bis ini sejuk sekali, tapi di rumah lebih enak karena banyak pohon dan tanaman. Meskipun rumah kami gubuk gombal, kami tidak punya masalah dengan tagihan kartu kredit. Paling hutang di warung saja yang tak kunjung beres, karena cicilan mamak yang selalu di bawah pembayaran minimum. Aku jadi ingin makan Supermi. Ah, enak Sarimi isi 2 yang punya Ayu Ting Ting. Beli harga satu dapat dua, bisa bagi-bagi sama adik dan mamak. Hhhhhh..aku ngantuk, kenapa rumah kami jauh sekali. Tapi biar, ini jadi tamasya buat kami semua. Tak ada anggaran liburan tahunan yang kami miliki. Hanya plesir ini yang sanggup kami bayar. Adik-adik kok seru sekali ya, gabung ah..”
Lalu si 10 tahun merecoki adik-adiknya, dan terjadilah selisih khas anak kecil. Si 6 tahun menangis cengeng mengadukan kenakalan si 10 tahun ke ibunya. Dengan santai si kakak pergi kembali ke takhtanya dan seketika cengeng si adik berhenti diganti keriangan yang tadi sempat tertunda. Kembali dunia damai. Tanpa ada pertikaian dan pembunuhan.
Aku kerap mengumbar emosi buta terhadap pekerjaan atau pada orang-orang sekitarku yang terkadang sangat menyebalkan. Keluar kata-kata yang sepantasnya disebutkan di hadapan binatang-binatang yang bersangkutan. Terkadang kusemburkan juga kata-kata kasar yang sepatutnya diucapkan kala aku sedang bercermin.
Mengapa tak kubiarkan saja sial sebal itu berlalu, dan kembali aku duduk di peraduanku tanpa harus melakukan konfrontasi dengan raungan kosong berisi amarah? Tak bisakah aku seperti anak-anak kecil ini? Selisih sebentar, menangis secukupnya dan kembali bermain, atau kembali duduk menikmati perjalanan. Tidak ada secuilpun kekesalan yang perlu dikubur dalam hati.
Dengan amarah dan komentar brutal, terkadang aku merasa jadi jagoan di teritorial sendiri. Aku merasa superior dan paling benar di atas semua pembenaran. Namun sesudahnya? Kembali aku sendiri dan masalah tetep bertengger di sana menungguku sampai memiliki kepala dingin. Si 10 tahun menjadi mentor baru bagiku. Dosen berusia muda yang entah lulusan sekolah mana.
“Jangan biarkan emosi mengendaraimu. Pegang tali kekangnya, dan arahkan ia tetap berjalan di jalur yang tepat, agar tak ada sesal kemudian kau lahirkan”
Sore merangkak tua, dan perjalan di atas bis biru ini hampir usai. Halte pemberhentianku sedikit lagi menyambut kedatanganku. Ah, masih ada sedikit waktu. Ku edarkan pandangan ke jalanan di luar sana. Truk merah besar, berisi penuh aneka rupa pekerja kasar. Mungkin ada sekitar 30-an pria berjejalan di kotak yang biasanya dipakai untuk mengangkut hewan atau bahan-bahan bangunan itu.
Wajah-wajah itu berjelaga kelabu. Kulit legam dan kering, dilengkapi model rambut yang serupa warna serabut jagung. Badan mereka nampak getas dan liat, dibentuk oleh karir sebagai kuli bangunan. Bukan karena rutin bertandang ke klub fitness ternama. Sebentar saja aku melihat pemandangan tersebut, kami berpisah di persimpangan. Yang sebentar itu terpahat demikian presisi di ingatanku. Tak akan hilang dalam waktu singkat mata-mata penuh gairah hidup itu. Walau letih sepanjang hari memecah batu, mengangkat pasir, menggali tanah, dan sebagainya. Mereka punya mimpi sederhana. ‘Bulan depan, harus punya telepon selular merk Cross yang bisa dipakai juga untuk nonton TV. Biar bisa pamer sama Tuti’
Sering tidurku terusik oleh topan yang berisi berbagai-bagai ketakutan, kebingungan, harapan, doa, keraguan, bagaimana kalau ini.., apa yang terjadi jika itu..
Sekumpulan professor muda di dalam kotak merah besar itu menjadi tim penilai ujian skripsiku.
“Selama ada Tuhan di sisiku, apakah yang harus ditakutkan?”
Aku termenung dalam malu dan hampir melaharkan air mata. Kemana selama ini pikiranku? Berkelana ling-lung kesana kemari mencari alamat. Bahkan wanita muda penyanyi dangdut itu kini berdamai dengan hidupnya, tak lagi ngotot mencari alamat palsu sang kekasih.
Halte sudah di depan mata. Ku tatap sekali lagi anak-anak kecil si 5-10 tahun serta kedua ibu mereka sebelum keluar dari bis ini.
‘Terimakasih para bapak dan ibu Guru. Jasamu tiada tara.’
Kaki kiri berpijak terlebih dahulu di pelataran pemberhentian, kaki kanan mengikuti. Mata pelajaran jiwa telah kudapat, dan kini saatnya imanku mengikuti semua teorinya dalam praktek kurikulum kehidupan nyata.
Tuhan bimbinglah aku senantiasa.


