Masuk Goa di Gunung Kidul

Desember 26, 2011 – Jogjakarta

Sepanjang perjalanan dari Malang ke Jogja adalah pengetahuan segudang yang gue dapat. Melintasi aneka kota dari Timur ke Barat gue jadi tau bahwa banyak sekali kota di Indonesia yang jauh lebih bersih dan teratur dari Ibu Kota Jakarta Raya yang termasyur itu.  Mungkin kalo liat dari pendapatan perkapita, daerah-daerah ini kalah jauh. Tapi dari tingkat stress dan kesenjangan sosial justru Jakarta kalah jauh sejauh-jauhnya.  Well, tetep sih ada positif dan negatifnya.

Melintasi Kediri, Madiun, Nganjuk, Kartanagara, Klaten dan sebagainya, gue mati gaya di atas jok mobil. Menjelang magrib kami belum juga masuk kota Jogja. Sementara dari kaca spion gue liat mata si sopir udah beler berat. Malah beberapa kali gue liat dia sempet ketiduran beberapa detik. Sebagai penumpang yang punya otak, itu abang gue teriak-teriakin untuk mengalihkan ngantuknya. Gue duduk paling belakang dan iseng nanya-nanya dengan suara keras tentang kehidupan dia. Dari nanya rumahnya dimana, udah berkeluarga atau belum, ngantuk atau ngga, sampe akhirnya mata dia mulai cerah lagi. Penumpang lain ngga ada yang peduli. Si abang gue kasih permen Xon-C yang asem itu biar matanya tetep seger.

Akhirnya kami sampe di Jogja. Dengan diiringi lagu Garuda Pancasila, gue dadah-dadah sama penduduk sekitar yang ngeliat gue juga kagak :p

Jogjakarta. Oh Tuhan kota ini.. penuh kisah disini. Tahun 2009 gue sempet backpacking sendirian juga kesini dan sambung ke Bandung pas pergantian tahun. Gue selalu cinta kota ini, meskipun ngga pernah kesini sama kekasih. Tapi entah deh, setiap sudutnya kaya ada sihirnya yang narik gue untuk selalu kembali datang. Acaelah..

Akhirnya kerinduan yang udah ditahan beberapa bulan sebelumnya tunai sudah, ketika menatap muka dua sahabat yang tumbuh bersama sejak kami masih bocah. Opie (berkacamata) dan Kitty (berkumis (heheh becanda)), perkenalkan pemirsa :D

Kami bertiga punya banyak kesamaan. Yang paling obvious adalah sifat kami yang ngga ada takutnya sama tantangan. Kitty adalah mantan anggota pecinta alam di SMA 82. Dia aktif naik gunung dan olahraga panjat tebing. Opie adalah wartawan yang kini kerja di majalah Semoga Laku. Kami berteman sejak SD di awal tahun 90-an. Di gereja kami tumbuh bersama ngikutin berbagai program pembentukan karakter di sana. Dari Paduan Suara, organisasi Youth Ministry sampe kelompok theater.

Selama 4 hari 3 malam kami akan tarung ilmu. Disini kami nginep di hotel Kinasih, milik Tantenya Opie. Gratis cuy! ^^

Desember 27, 2011 – Gunung Kidul, Wonosari

Early in the morning, before all bencongs and kuntilanak arrived home kami udah bergegas menuju terminal bis menuju Gunung Kidul. Mau memperpanjang kartu jimat yang udah kadaluwarsa ;p

Kami mau ke kampung halamannya Opie. Di sana kami akan stay satu malam. Tujuan utamanya adalah kegiatan caving (susur goa) di Goa Pindul.

Dengan tiket seharga Rp 5000 kami melesat dengan bis umum yang fisiknya udah memprihatinkan. Karat dimana-mana, kalo kulit kena goresannya kudu berdoa jangan sampe jadi tetanus :p

Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 1.5 jam dengan suguhan pemandangan desa-desa yang gemah ripah loh jinawi. Tiba di pertigaan Wonosari, kami dijemput sepupunya Opie dengan truk gandeng menuju rumah sang Eyang yang udah almarhum dan kini ditempati oleh keluarga Oom-nya Opie.

Ini dia rumahnya. Jeng jeeennggg! Apik banget ya. Rapih, bersih dan nyaman.

 

Bukan rumah itu aja yang sebegini apiknya, lingkungan desa itu memang bersih banget. Jalanannya mulus dan dihiasi ladang-ladang jagung yang teratur tumbuh di tepian jalan. Ngga ada polusi dan yang jelas ngga ada kemacetan :D

Singkat cerita, setelah dijamu dengan teh tubruk khas yang uenak tenan dan beberes bawaan, kami melaju menuju Goa Pindul.

Paket wisata di sini menawarkan 3 titik point untuk ditelusur.

Pertama adalah goa primadona setempat, si Pindul dengan harga Rp 35.000/ trip. Kedua adalah Goa Apa Yah Namanya (serius gue lupa hehehe), dimana ini adalah goa kering yang harus disusur dengan merayap dan merangkak karena rongganya yang sempit, biayanya juga Rp 35.000/ trip. Lalu yang ketiga adalah rafting di sungai Poyo dengan harga Rp 45.000/ trip. Semua pilihan udah mendapatkan perlengkapan keselamatan berupa life jacket, sepatu plastik dan ban untuk pelampung.

Kami memutuskan cuma ambil yang Goa Pindul dan rafting sungai Poyo. Goa Pindul disusur dengan memakan waktu kurleb 45 menit. Sementara rafting ditempuh dengan waktu kurleb 1.5 jam dengan tempo santai.

Mulailah kami dengan doa bersama yang dipimpin oleh instrukturnya yang ramah dan baik hati dan sedikit berkumis bernama Pak Adi. Si bapak bilang: “Doa dimulai..”. Baru aja gue dalem hati ngomong: “Ya Tuhan ka..” Doski langsung motong: “Doa selesai”. Lah doa 2 detik doang :p

Goa ini memiliki air yang super jernnnniiiiihhhh banget. Warnanya turquois gitu. Nih liat.

Kami tertakjub-takjub demi ngeliat stalaktit yang indah berkilau-kilau di atas goa. Ada yang bahkan membentuk kristal, konon katanya kalo dijual akan berharga mahal banget. Tapi pengelola setempat insist membiarkannya disitu, demi kelestarian cagar alam dan buat jadi pengetahuan setiap orang yang datang. Arif banget ya :’)

Di goa ini kami ngga cuma duduk diem aja ngeliatin dinding dan stalaktitnya yang menjuntai-juntai. Sepanjang penyusuran, Pak Adi dengan lancar jelasin segala hal yang berkaitan sama tempat itu secara pengetahuan biologi dan geografinya. Keren abis, berasa balik lagi ke bangku SMP. Juga dia jelasin beberapa mitos setempat yang percaya jika pria menyentuh salah satu stalaknit (karang yang nyembul dari bawah) akan membuat kejantanan si pria jadi MAK-GRENG!!! Kontan sepupunya si Opie yang ikutan kita langsung membelai-belai tuh stalaknit yang emang bentuknya agak sedikit cabul dengan penuh perasaan.

Ngga jauh dari situ, ada stalaktit yang bentuknya unik yang katanya itu buat para wanita yang masih melajang.Jika berhasil nyentuh tuh benda, konon katanya bisa mendatangkan jodoh secepat kiriman Fed-Ex. Oh, sudah tentu gue ngga mau melewatkan moment ini. Dengan susah payah gue usaha keras mencapainya. Susah boooo..

Lalu penyusuran di lanjutkan. Tibalah kami di sebuah spot indah. Jadi yah itu goanya berlubang di bagian atas. Maka warna turqoise si air nampak cemerlang disinari langsung oleh matahari yang masuk dari lubang besar tersebut. Indaaaaaahhhh banget!

Di situ kami beratraksi lompat terjun ke air dari tebing goa yang tingginya sekitar 2 meter. Seru banget, gue sampe ngulang 2 kali hehehe.

Kemudian kami lanjut lagi sampe keujung goa. Yaaaaaaa selesai deh. Tapi ada keriaan apa itu di luar? Waah ternyata rombongan lain lagi asik main loncat-loncatan ke air dari tebing sisi luar yang tingginya sekitar 4 meter. Widih, menantang bener.

Gue sama Kitty dengan hati riang gembira bergabung sama rombongan pria-pria kece tersebut. Ehem, ya sekalian lah hehehhe

Ternyata sodarah! Setibanya di titik loncat, dengkul ini gemeteran. Ngeriiiiiiiii!!! Demi menghibur diri, gue pake atraksi-atraksi Megaloman sebelum loncat. Itu jadi bahan ketawaan semua rombongan di tempat, karena tiap gerakan kuda-kuda gue diiringi sorakan: Eaaaaaa! Eaaaa! Eaaaa!. Udah kaya Tukul kalo lagi beraksi lah :D

Akhirnya, dengan ketakutan dan jerit sekenceng-kencengnya gue terjun bebas. Dengkul udah mati rasa. Lemeessss…

BYYUUUURRRRRR…gue melesat masuk ke dalam air yang jernih, dan sesaat kemudian muncul lagi kepermukaan dengan sambutan hora hore semua manusia hahahhaha.

Yak! Kami lanjut dengan rafting di sungai Poyo. Jangan mikir ini sungai dengan grade jeram setara Citarik atau Citatih ya. Ini cuma sungai sederhana yang pemalu gitu kok. Buktinya kami cuma berbekal ban aja sebagai sarana transportnya. Tapi pemandangannya ngga mengecewakan. Suara gemericik arus airnya menenangkan, langit jernih, angin sepoi-sepoi dan kicau burung sesekali menghiasi suasana. Di sana kami juga nemuin air terjun imut-imut loh. Ini dia fotonya. Lumayanlah ada selingan :p

Setelah kaki dan tangan keriput serta pantat masuk angin, kami tiba di garis finish. Kalo kami mau nerusin, mungkin akan bermuara di Jayapura.

Dengan menggunakan truk pick up yang tadi nganter ke lokasi ini, kami kembali ke base camp melewati perkebun pohon kayuputih dan persawahan yang cakep. Serulah! :D

Setiba di basecamp kami membereskan pembayaran, kasih uang tips buat Pak Adi yang ramah dan baik hati serta foto-foto sekejap.

Perut lapeeerrrr. Demi melihat tukan es sumsum nan menggiurkan, segera kami serbu dengan kalap. Dan, woah!! Tukang pecel!!! Ini dia makanan yang dari kemaren pengen banget kami hantam. Tanpa perasaan kami menerjang lapak ibu-ibu pecel dan makan tuh pecel dengan beringas. Udah laper banget, nemu makanan enak nan murah. Kurang apa lagi?

Kembali deh ke rumah. Mandi, makan siang dan goleran sampe sore. Karena bosen, akhirnya kita berboncengan motor jalan-jalan ke sekitar kampung. Tentunya berfoto-foto di ladang jagung di atas bukit. Ini dia gambarnya :D

  

Lalu sisa hari kami lewati bersenda gurau dengan keluarganya Opie sampe menjelang waktunya bobo cantik.

Ah..masih ada satu lagi postingan terakhir buat menutup perjalanan lintas Jawa ini. Tunggu yah minggu depan, cheers! :D

6 Responses

  1. part doa kilat ala pak Adi itu sukses bikin gue ngakak….goblosss…btw lo gak cerita berkat aksi megaloman lo melompat dari tebing setinggi 4 meter itu, keesokan harinya langsung dilmar seorang pria di stasiun tugu??hahahaha…

    • bwahahhahahha gue juga tiap inget itu selalu ketawa, doa super kilat. bilang bismilah aja ngga cukup waktunya. halah itu penggemar aneh di stasiun, gue rasa dia copet yg berusaha mengalihkan perhatian hahahhaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s